Museum Kayu Tuah Himba: Menyimpan Warisan Budaya Lewat Koleksi Buaya yang Diawetkan

Potret Buaya yang diawetkan di Musium Kayu, Tenggarong. Sumber: Istimewa

KUKAR — Di tengah menjamurnya destinasi wisata modern dan desa wisata yang sedang naik daun, Museum Kayu Tuah Himba tetap hadir sebagai pilihan yang unik dan edukatif di Tenggarong. Daya tarik utamanya bukan sekadar koleksi kayu langka, melainkan seekor buaya yang telah diawetkan, menjadi pusat perhatian dan ikon yang tak terlupakan bagi para pengunjung.

Koleksi reptil besar tersebut, yang ditempatkan di ruangan khusus, memikat hati para pelajar dan keluarga yang berkunjung. Banyak anak-anak datang dengan rasa ingin tahu tinggi, karena inilah kesempatan langka melihat buaya dari dekat dalam kondisi utuh.

Namun, pesona museum ini tak serta-merta mendongkrak angka kunjungan. Seperti disampaikan oleh pengelola museum, Sopyan Hadi, kunjungan harian yang dulu bisa mencapai 20–25 orang sebelum pandemi, kini turun drastis menjadi hanya sekitar 4–5 pengunjung per hari.

Baca Juga  Wisata Bukit Batu Dinding Kukar, Perpaduan Wisata Alam yang Memikat

“Aktivitas meningkat saat akhir pekan atau ketika ada kunjungan sekolah. Februari nanti kami menyambut sekitar 200 siswa dari Balikpapan. Itu cukup membantu,” ujar Sopyan.

Museum ini juga menyimpan berbagai artefak berharga seperti kayu ulin dan perabot kuno, namun buaya awetan tetap menjadi bintang utamanya. Menurut Sopyan, banyak pengunjung menyempatkan berfoto dengan koleksi tersebut, karena masih sedikit yang pernah menyaksikan buaya sedekat itu secara langsung.

Perawatannya pun tidak sembarangan. Berbeda dengan koleksi kayu yang cukup dipoles atau dipelitur, konservasi buaya memerlukan keahlian dan penanganan khusus, terutama dalam penggunaan formalin. “Kami butuh bantuan tenaga profesional seperti dokter hewan untuk proses pengawetan ini,” jelas Sopyan.

Baca Juga  DKP Kukar Perkuat Perlindungan Pesut Mahakam Lewat Konservasi dan Pemberdayaan Nelayan

Meski harga tiket masuk sangat terjangkau — Rp 5.000 untuk dewasa dan Rp 3.000 untuk anak-anak — museum ini belum mampu menarik perhatian luas, khususnya dari kalangan muda. Sopyan menyoroti pergeseran minat generasi sekarang yang lebih menyukai destinasi instagenik dan hiburan digital.

Pernah ada upaya kerja sama dengan sebuah kedai kopi ternama sebagai strategi promosi, namun kini kerja sama tersebut sudah berakhir.

Ia pun berharap adanya dukungan lebih besar dari pemerintah daerah maupun komunitas lokal untuk mengangkat kembali eksistensi museum ini. Salah satu gagasannya adalah memanfaatkan platform digital, seperti membuat video edukatif tentang koleksi buaya awetan untuk menarik minat anak-anak dan pelajar.

Baca Juga  Kukar Tingkatkan Upaya Perlindungan Perempuan dan Anak di Tengah Kasus Kekerasan

“Kalau kita bisa jadikan buaya ini sebagai simbol promosi, lalu dibawa ke sekolah-sekolah lewat program edukatif, saya yakin akan lebih banyak yang datang,” ungkapnya.

Museum Kayu Tuah Himba mungkin tak semegah tempat wisata kekinian, tapi nilai sejarah dan kekayaan budayanya sangat besar. Setiap koleksi yang ada, termasuk buaya awetan, bukan sekadar benda, melainkan pintu untuk memahami kekayaan hayati dan warisan sejarah Kutai Kartanegara.(Adv)

Bagikan: