Rescue dan Pemadam di Kutim Masih Campur Petugas, Idealnya Harus Terpisah

Media Meratus, Kutai Timur – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Kutai Timur mengakui bahwa hingga saat ini belum ada pemisahan khusus antara personel pemadam kebakaran dan petugas rescue. Kondisi tersebut membuat satu regu harus menangani berbagai jenis kejadian, mulai dari kebakaran hingga evakuasi non-kebakaran.

Dalam praktiknya, petugas pemadam kerap diturunkan untuk menangani evakuasi hewan liar seperti ular dan buaya, serta penyelamatan warga yang terjebak. Padahal, tugas-tugas tersebut memiliki tingkat risiko dan kebutuhan keahlian yang berbeda dengan pemadaman api.

Kepala Disdamkar Kutai Timur, Failu, menilai kondisi ini belum ideal dan perlu dibenahi ke depan. “Selama ini kita masih mengandalkan regu yang sama, padahal tugas rescue dan pemadam itu berbeda dan seharusnya ditangani oleh personel yang juga berbeda,” ujarnya.

Baca Juga  Damkar Kutim Jadi Garda Terdepan Penanganan Darurat, Dari Api hingga Buaya Liar

Menurutnya, setiap jenis penanganan membutuhkan pelatihan serta perlengkapan khusus. Tanpa keahlian dan alat yang memadai, risiko kecelakaan terhadap petugas akan semakin besar, terutama dalam penanganan evakuasi hewan buas.

Beban kerja petugas juga terbilang tinggi. Dalam satu hari, satu regu bisa menangani hingga lima atau enam laporan dengan jenis kejadian yang beragam, mulai dari kebakaran permukiman, kebakaran lahan, hingga penyelamatan non-kebakaran.

Baca Juga  Kepala Desa Sebelimbingan Sambut Positif Rencana Perdagangan Karbon di Wilayahnya

Kondisi tersebut membuat efektivitas dan keselamatan kerja menjadi tantangan tersendiri. Penggabungan fungsi rescue dan pemadam dinilai tidak hanya memberatkan petugas, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Disdamkar Kutai Timur telah mengusulkan kepada pemerintah daerah agar dilakukan pemisahan personel secara bertahap. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme dan fokus kerja masing-masing unit.

Selain sumber daya manusia, pemisahan unit juga membutuhkan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Peralatan rescue seperti alat penangkap ular, pelampung, dan perlengkapan evakuasi air berbeda dengan peralatan pemadam kebakaran.

Baca Juga  SDN 4 Sangatta Utara Dorong Pendidikan Karakter untuk Hentikan Bullying di Sekolah

Failu menegaskan bahwa upaya ini merupakan investasi jangka panjang dalam peningkatan pelayanan publik. “Harapan kami ke depan ada rekrutmen khusus untuk petugas rescue yang dibekali pelatihan dan peralatan sesuai bidangnya, sehingga pelayanan lebih cepat, tepat, dan petugas bekerja dengan aman,” pungkasnya.

Dengan pemisahan fungsi dan penguatan unit rescue, Disdamkar Kutai Timur berharap dapat memberikan layanan yang lebih optimal sekaligus menjamin keselamatan personel di lapangan.(ADV)

Bagikan: