Dinkes Kukar Bidik Stunting Turun ke 12,2 Persen

Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah (Dok: Media Meratus)

Media Meratus, Kutai Kartanegara – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) masih memiliki pekerjaan untuk menekan angka stunting. Hingga September 2026, prevalensi stunting di Kukar tercatat sebesar 14,2 persen.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar menargetkan angka tersebut kembali ditekan hingga sekitar 12,2 persen. Berbagai intervensi pun terus diperkuat, tidak hanya melalui pemberian makanan tambahan (PMT), tetapi juga dengan meningkatkan layanan kesehatan di tingkat masyarakat.

Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah mengatakan, capaian 14,2 persen masih berada dalam target yang telah ditetapkan. Meski demikian, pemerintah daerah tetap mendorong adanya penurunan lebih lanjut.

“Capaian yang sudah ada harus terus kita jaga. Program penanganan stunting tetap menjadi perhatian dan perlu dipastikan pelaksanaannya berjalan secara berkelanjutan,” ujar Ismi. Minggu (27/9/2026)

Baca Juga  DLHK Kukar Siapkan Peringatan Hari Lingkungan Hidup dengan Konsep Segar

Salah satu program yang terus dijalankan adalah PMT lokal melalui puskesmas yang menyasar wilayah kecamatan, kelurahan hingga desa.

Pemberian makanan tambahan tersebut diprioritaskan bagi ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK), serta bayi dan balita yang mengalami stunting.

Menurut Ismi, menu PMT tidak dibuat sembarangan. Tenaga gizi menyusun makanan berdasarkan kebutuhan nutrisi penerima, dengan memperhatikan kecukupan karbohidrat, protein dan zat gizi lainnya.

Pemanfaatan bahan pangan lokal juga menjadi bagian dari program tersebut. Sejumlah bahan yang mudah diperoleh di daerah, seperti kacang-kacangan dan sumber protein lainnya, dapat diolah menjadi menu PMT.

Intervensi juga dilakukan sejak masa kehamilan. Dinkes Kukar melakukan deteksi terhadap ibu hamil yang berisiko mengalami KEK melalui pengukuran lingkar lengan atas (LILA).

Baca Juga  Aulia–Rendi Mulai Realisasikan Janji Politik, Tinjau Dua Lokasi Calon Bioskop di Tenggarong

Ibu hamil dengan ukuran LILA di bawah 23 sentimeter masuk dalam kelompok yang membutuhkan perhatian serta penanganan lebih lanjut.

Tak hanya mengandalkan program pemberian makanan, Dinkes Kukar juga memperkuat kapasitas kader posyandu dan tenaga kesehatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Penguatan tersebut dilakukan bersama Yayasan Cipta melalui sejumlah kegiatan, termasuk pilot project di wilayah Loa Janan dan Tenggarong Seberang.

Akses terhadap layanan kesehatan juga diperluas dengan menghadirkan dokter spesialis anak di sejumlah wilayah. Langkah ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat memperoleh pemeriksaan lanjutan tanpa harus selalu bepergian jauh.

Baca Juga  Loa Raya Kembangkan Koperasi Batu Padas, Sinergi dengan BUMDes untuk Majukan Ekonomi Desa

“Penanganan tidak hanya dilakukan dari satu sisi. Kami juga meningkatkan kemampuan kader dan petugas, sekaligus mendekatkan pemeriksaan dokter spesialis anak ke wilayah yang membutuhkan,” jelasnya.

Selain fokus pada stunting, Dinkes Kukar juga memantau sejumlah indikator kesehatan lainnya, termasuk angka kematian balita dan pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.

Ismi menegaskan, capaian angka stunting bukan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan harus dilakukan secara konsisten agar hasil yang telah dicapai dapat dipertahankan.

“Angka September berada di 14,2 persen dan masih sesuai target. Selanjutnya kami membidik sekitar 12,2 persen, sehingga berbagai upaya yang sudah berjalan harus terus kita maksimalkan,” pungkasnya. (Adv)

Bagikan: