Media Meratus, Kutai Timur – Program Adiwiyata kini hadir dengan lima aksi inti sebagai acuan pembinaan lingkungan di sekolah. Perubahan ini menuntut sekolah untuk lebih fokus dalam merencanakan langkah-langkah pelestarian lingkungan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Lima aksi inti tersebut mencakup aspek kebersihan, pengelolaan sampah, keanekaragaman hayati, penghematan energi, dan penghematan air. Seluruh aksi dirancang untuk memberikan arah yang lebih jelas bagi sekolah agar tidak lagi menghadapi kebingungan dalam pengelompokan kegiatan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutai Timur (Kutim), Aji Wijaya Effendi, menyatakan bahwa fokus utama dari aturan baru ini adalah efektivitas. Ia menekankan bahwa sekolah perlu lebih konsisten dalam menjalankan setiap aksi agar hasilnya benar-benar terlihat.
“Dengan lima aksi inti, sekolah dapat memusatkan energi pada kegiatan yang benar-benar berdampak,” jelas Aji.
Aji juga menuturkan bahwa inovasi tetap menjadi bagian penting dalam setiap aksi. Sekolah didorong untuk menghadirkan kreativitas yang mencerminkan karakter dan potensi masing-masing.
DLH Kutim telah mulai mensosialisasikan aturan baru ini melalui pertemuan bersama kepala sekolah.
Banyak sekolah menyatakan bahwa format baru ini lebih mudah dipahami dan lebih relevan dengan kondisi lapangan.
“Kami ingin memastikan sekolah menjalankan aksi lingkungan bukan karena tuntutan administrasi, tetapi karena kebutuhan,” tegasnya.
Dengan perubahan ini, Program Adiwiyata diharapkan dapat berjalan lebih fokus, terukur, dan memberikan dampak yang lebih nyata bagi lingkungan sekolah.(ADV)





