Rupiah Kembali Tertekan, Dolar AS Menguat di Awal Perdagangan

Media Meratus, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (17/4/2026). Tekanan ini muncul seiring menguatnya mata uang Negeri Paman Sam di tengah dinamika global yang masih berkembang.

Mengacu pada data Bloomberg hingga pukul 09.15 WIB, rupiah tercatat turun 42 poin atau sekitar 0,25 persen ke posisi Rp17.180 per dolar AS di pasar spot. Pada saat yang sama, indeks dolar AS juga mengalami kenaikan tipis sebesar 0,05 persen ke level 98,262.

Baca Juga  BBM Langka di Kembang Janggut, Harga Eceran Melonjak Hingga Rp22 Ribu per Liter

Pergerakan ini tak lepas dari sikap pelaku pasar yang cenderung menahan diri sambil menanti kejelasan terkait negosiasi geopolitik, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut turut memengaruhi arah pergerakan mata uang global, termasuk rupiah.

Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga didukung oleh data ekonomi domestik Amerika Serikat. Klaim awal tunjangan pengangguran dilaporkan turun sebanyak 11.000 menjadi 207.000 untuk periode yang berakhir pada 11 April 2026. Angka ini memberikan sinyal ketahanan pasar tenaga kerja AS.

Baca Juga  Produsen Tempe di Kukar Siasati Kenaikan Harga Kedelai dengan Perkecil Ukuran

Pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut konflik antara AS-Israel dan Iran mendekati akhir turut memicu optimisme pasar. Meski begitu, perbedaan pandangan dalam proses negosiasi damai masih diakui oleh pihak Iran, menandakan situasi belum sepenuhnya stabil.

Kepala strategi pasar global di Brown Brothers Harriman, Elias Haddad, menilai penguatan dolar saat ini cenderung terbatas. Ia menyebut sentimen pasar masih berada dalam fase netral untuk beberapa bulan ke depan.

Baca Juga  BBM Langka di Kembang Janggut, Harga Eceran Melonjak Hingga Rp22 Ribu per Liter

“Ada harapan terhadap solusi diplomatik dari konflik yang berlangsung, dan hal itu mendukung perbaikan sentimen risiko di pasar keuangan,” ujarnya.

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut dalam jangka pendek, seiring investor global yang terus mencermati perkembangan ekonomi dan geopolitik dunia.

Bagikan: