Tradisi Adat Kutai Lawas Nutuk Beham di Kedang Ipil

Media Meratus, Kukar – Tradisi Nutuk Beham kembali dilaksanakan oleh masyarakat Desa Kedang Ipil, Kutai Kartanegara, sebagai ritual adat ungkapan rasa syukur atas hasil panen padi. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini berlangsung selama tiga hari tiga malam dan menjadi momentum mempererat kebersamaan warga.

Wakil Kepala Adat Kedang Ipil, Sartin, menjelaskan bahwa Nutuk Beham merupakan tradisi lama yang terus dilestarikan karena memiliki nilai sejarah dan filosofi yang kuat dalam kehidupan masyarakat.

Ia mengungkapkan, tradisi ini berkaitan erat dengan legenda asal-usul padi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, padi tidak hanya dipandang sebagai hasil pertanian, tetapi juga memiliki makna simbolis yang sangat dalam.

Baca Juga  Jembatan Kutai Kartanegara, Jembatan ke-Enam yang Aplikasikan Teknologi SHMS

Menurutnya, secara filosofi padi dianggap sebagai representasi kehidupan manusia. Oleh karena itu, masyarakat diajarkan untuk menghargai padi dan tidak menyia-nyiakan hasilnya.

“Secara filosofi, padi itu adalah wujud dari manusia itu sendiri. Karena itu, dari dulu sampai sekarang masyarakat sangat menghargai padi dan nasi, tidak boleh dibuang,” jelasnya.

Ia menambahkan, nilai-nilai tersebut menjadi dasar mengapa tradisi Nutuk Beham terus dijaga, terutama dalam setiap tahapan kegiatan berladang, mulai dari menanam hingga panen.

Baca Juga  Operasi Ketupat Mahakam 2026 Disiapkan, Jimmi Tekankan Sinergi Pengamanan Mudik di Kutai Timur

Setelah kesepakatan pelaksanaan ditentukan melalui musyawarah, warga mulai mengumpulkan padi hasil panen. Setiap masyarakat diberi kesempatan untuk berpartisipasi sesuai kemampuan masing-masing.

“Siapa saja boleh ikut berpartisipasi dengan menyerahkan padi sesuai kemampuan, biasanya menggunakan ukuran kaleng,” ujarnya.

Padi yang terkumpul kemudian direndam selama satu hingga beberapa malam untuk mendapatkan tekstur yang lebih lembut sebelum memasuki tahap berikutnya.

“Perendaman biasanya dua sampai tiga malam, tergantung kondisi padi,” tambahnya.

Baca Juga  HEBAT! Peningkatan Investasi PMDN Kutai Kartanegara Tertinggi di Kaltim

Selanjutnya, padi ditiriskan hingga kering, lalu disangrai menggunakan teknik khusus agar tidak lengket serta menghasilkan kualitas beras yang baik.

Memasuki tahapan inti, warga bersama-sama menumbuk padi menggunakan lesung dan alu. Proses ini dilakukan secara gotong royong dan menjadi simbol kuat kebersamaan masyarakat.

Dentuman lesung yang bersahut-sahutan menandai puncak kegiatan, menghadirkan suasana hangat dan kekompakan antarwarga.

Rangkaian tradisi kemudian ditutup dengan upacara adat sebagai puncak ritual.

“Upacara ini merupakan bentuk rasa syukur kepada leluhur dan dewa-dewi padi atas hasil panen yang diberikan,” tutup Sartin.

Bagikan: