KUKAR – Desa Bukit Pariaman di Kecamatan Tenggarong Seberang dikenal sebagai salah satu penopang ketahanan pangan di Kutai Kartanegara. Dengan lahan seluas 600 hektare, wilayah ini menjadi sumber utama padi, palawija, dan sayuran bagi daerah sekitarnya.
Kepala Desa Bukit Pariaman, Sugeng Riadi, menyampaikan bahwa potensi lahan dimanfaatkan sepenuhnya oleh warga untuk sawah dan kebun. Dalam satu kali panen, petani bisa menghasilkan 3 hingga 4 ton gabah, hasil dari kerja keras yang dijalani di tengah keterbatasan.
Sebagian besar warga menggantungkan hidup dari pertanian. Namun, sistem irigasi yang masih sederhana membuat mereka bergantung pada hujan.
Perbedaan musim sangat memengaruhi hasil panen saat curah hujan sesuai harapan, produksi melimpah, tetapi musim kemarau panjang bisa memicu gagal panen.
“Kami belum punya irigasi teknis, jadi sepenuhnya tadah hujan. Ini yang membuat kami hanya bisa menanam dua kali setahun,” jelas Sugeng. Sabtu (19/7/2025).
Meski demikian, semangat petani tetap kuat. Baik hujan maupun kemarau, mereka tetap menggarap sawah. Pemerintah desa berupaya mendampingi dan memperjuangkan pembangunan saluran irigasi permanen melalui koordinasi dengan pihak kabupaten.
Sugeng optimistis, dengan dukungan infrastruktur yang memadai, hasil panen bisa meningkat signifikan. Bagi warga Bukit Pariaman, bertani bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk pengabdian pada tanah yang telah mereka jaga turun-temurun.
“Petani kami tangguh, dan ketahanan itu sudah menjadi bagian dari kehidupan di sini. Kami yakin, dengan kerja sama semua pihak, masa depan pertanian desa akan semakin cerah,” tutupnya. (Adv)





