Media Meratus, Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus memperkuat ekosistem pendidikan lingkungan dengan mensosialisasikan empat level Program Adiwiyata kepada seluruh sekolah.
Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda DLH Kutim, Tanti Nur, menyebut sosialisasi ini penting untuk menciptakan pemahaman yang sama mengenai alur program.
“Empat level Adiwiyata adalah struktur pembinaan yang dibuat untuk memperkuat budaya sekolah berwawasan lingkungan,” jelasnya.
Level 1 menekankan kesiapan administrasi seperti registrasi pada Sistem Informasi Adiwiyata (SIDIA) serta penyusunan dokumen perencanaan jangka menengah.
Tahap ini menjadi dasar pembentukan ekosistem lingkungan sekolah.
Level 2 menguji implementasi kegiatan tahun kedua melalui penilaian DLH kabupaten/kota untuk SD dan SMP serta DLH provinsi untuk SMA.
Pada tahap ini, integrasi kegiatan lingkungan dengan pembelajaran menjadi fokus utama.
Level 3 dan Level 4 memiliki penilaian yang lebih kompleks karena berada di bawah pembinaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Menurut Tanti, ekosistem pendidikan lingkungan di Kutim perlu diperkuat melalui sinergi antara sekolah, pemerintah daerah, dan masyarakat.
“Kami ingin mendorong kolaborasi agar dampaknya tidak hanya di sekolah, tapi juga ke lingkungan sekitar,” katanya.
DLH Kutim terus melakukan pendampingan agar sekolah memahami cara menyusun dokumentasi, melakukan monitoring, dan meningkatkan keterlibatan warga sekolah.
Pendampingan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kultur lingkungan.
Adiwiyata harus dipahami sebagai gerakan bersama, bukan semata kompetisi.
Ia menilai keberhasilan program ditentukan oleh komitmen seluruh pihak. “Jika semua unsur bergerak, ekosistemnya akan terbentuk lebih kuat,” tegasnya.
Dengan sosialisasi berkelanjutan ini, DLH Kutim optimistis lebih banyak sekolah akan mencapai level tinggi dan memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan lingkungan di daerah.(ADV)





