Media Meratus, Kutai Timur – Produksi sampah harian di Kabupaten Kutai Timur terus mengalami peningkatan signifikan. Setiap hari, volume sampah diperkirakan mencapai 200 hingga 220 ton, seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi yang semakin padat.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Kutai Timur untuk mempercepat langkah strategis dalam pengelolaan lingkungan. Salah satu upaya yang kini menjadi perhatian serius adalah pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) sebagai solusi jangka panjang.
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kutai Timur, Noviari Noor, menegaskan bahwa TPST memiliki peran krusial dalam mengendalikan persoalan sampah sejak dari hulu.
“Pembangunan TPST menjadi prioritas karena pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, bukan hanya di tempat pembuangan akhir,” ujarnya.
Menurutnya, selama ini beban pengelolaan sampah masih terlalu bertumpu pada TPA, sehingga kapasitasnya semakin terbatas. Tanpa sistem pengolahan terpadu, persoalan lingkungan berpotensi semakin kompleks di masa mendatang.
Pemkab Kutim menilai TPST dapat menjadi jawaban atas kebutuhan pengelolaan sampah yang lebih modern, efektif, dan ramah lingkungan. Melalui fasilitas ini, sampah dapat dipilah, diolah, dan dimanfaatkan kembali sebelum benar-benar menjadi residu.
Selain aspek teknis, pemerintah daerah juga menaruh perhatian besar pada kajian kelayakan lokasi TPST. Faktor kenyamanan lingkungan sekitar, dampak sosial, serta aksesibilitas menjadi bagian penting dalam perencanaan.
Noviari menyebut, pembangunan TPST tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa tanpa perhitungan matang. Setiap tahapan harus melalui kajian menyeluruh agar fasilitas yang dibangun benar-benar berfungsi optimal dan diterima masyarakat.
Ia menambahkan, TPST yang ideal tidak hanya mampu mengurangi volume sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, seperti pengolahan sampah bernilai guna dan penciptaan lapangan kerja.
Pemkab Kutai Timur juga mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk peran masyarakat dan swasta, dalam mendukung sistem pengelolaan sampah terpadu yang berkelanjutan.
“TPST yang akan kita bangun harus layak secara teknis, nyaman bagi lingkungan sekitar, dan mampu menjawab kebutuhan pengelolaan sampah jangka panjang,” kata Noviari Noor.
Dengan perencanaan yang matang, pemerintah daerah optimistis TPST dapat menjadi tonggak penting dalam menekan laju produksi sampah sekaligus menjaga kualitas lingkungan hidup di Kutai Timur.
Langkah ini diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah hari ini, tetapi juga menjadi investasi lingkungan bagi generasi mendatang.(ADV)





