Media Meratus, Kukar – Warga Desa Genting Tanah, Kecamatan Kembang Janggut, Kutai Kartanegara, sempat menghadapi kondisi sulit akibat kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam beberapa hari terakhir. Situasi ini memicu lonjakan harga BBM eceran yang mencapai Rp22 ribu per liter.
Kelangkaan tersebut mulai dirasakan sejak Jumat pekan lalu. Dampaknya, pasokan BBM di sejumlah titik menjadi terbatas, bahkan sempat kosong pada hari tertentu. Kondisi ini membuat masyarakat kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk kebutuhan sehari-hari.
Kepala Desa Genting Tanah, Junaidi, membenarkan adanya kelangkaan tersebut.“Kalau di Kembang Janggut, khususnya di Genting Tanah sampai Kembang Janggut, mulai hari Jumat yang lalu kalau tidak salah, itu memang sudah ada kelangkaan BBM,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Pemerintah desa kemudian melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pedagang eceran bersama aparat kepolisian. Dari hasil sidak, ditemukan adanya penjualan BBM dengan harga tinggi, jauh di atas batas wajar.
“Kemarin itu kami sidak ada salah satu pedagang yang menjual BBM eceran dengan harga Rp22.000. Makanya kami, waktu paginya kami baru dengar, langsung kami keluarkan surat himbauan itu, harga maksimal Rp15.000 dari kami, supaya masyarakat tidak terlalu keberatan,” jelasnya.
Sidak tersebut melibatkan perangkat desa dan aparat keamanan.“Kebetulan yang sidak juga perangkat kami, kasi pemerintahan dengan Babinkamtibnas dari Polsek Kembang Janggut. Itu yang melaksanakan sidaknya,” tambah Junaidi
Ia menyebutkan, kelangkaan BBM terjadi hampir di seluruh wilayah Kecamatan Kembang Janggut, dengan dampak paling terasa di Desa Genting Tanah. Bahkan pada Minggu, wilayah tersebut dilaporkan tidak memiliki stok BBM sama sekali.
“Kalau kelangkaannya ya itu, mulai hari Jumat itu kalau tidak salah sudah langka memang. Di Genting Tanah, kayaknya kemarin baru ada penjualnya, langsung menjual dengan harga segitu,” katanya.
Selain Pertalite yang sempat menyentuh Rp22 ribu per liter, harga Pertamax juga melonjak hingga Rp25 ribu per liter. Kenaikan harga ini terjadi pada Senin pagi, setelah sehari sebelumnya stok BBM benar-benar kosong.
Sebagai langkah pengendalian, pemerintah desa mengeluarkan imbauan kepada para pedagang agar tidak menjual BBM di atas Rp15 ribu per liter. Meski demikian, pemerintah masih memberikan toleransi jika harga sedikit lebih tinggi, mengingat kondisi distribusi yang sulit.
“Yang kemarin setelah kita sidak itu jadi Rp18.000, kalau tidak salah kami lihat sore itu. Masih bisa kita maklumi, karena memang lagi susah,” ujarnya.
Pemerintah desa berharap pihak terkait, termasuk agen penyalur BBM, segera menambah pasokan ke wilayah Kembang Janggut. Hal ini penting agar kelangkaan tidak berkepanjangan dan aktivitas masyarakat dapat kembali normal.





