Dispar Kukar Buka Ruang bagi Komika Tenggarong Tampil di Ruang Publik

Kabid Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda, (Dok: Istimewa)

Media Meratus, Kutai Kartanegara – Panggung komedi di Tenggarong perlahan berkembang. Komunitas Stand Up Comedy Tenggarong yang tumbuh secara mandiri mulai diarahkan untuk memperluas ruang tampil, termasuk menjajal panggung publik dengan karakter penonton yang lebih beragam.

Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) melihat perkembangan tersebut sebagai bagian dari potensi ekonomi kreatif yang perlu terus diberikan ruang.

Kabid Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda, mengatakan komunitas Stand Up Comedy Tenggarong memiliki keunikan karena mampu menjalankan kegiatan tanpa bergantung pada anggaran pemerintah.

“Memang komunitas ini non-APBD, tidak ada pembiayaan. Mereka mau tumbuh dan berkembang secara mandiri, dan itu memang mendapat atensi kami. Kami, secara komunitas, apalagi dinas, sangat mengapresiasi sekali,” kata Zikri, Kamis (8/10/2026).

Menurutnya, komunitas tersebut awalnya hanya beranggotakan sekitar delapan orang. Kini jumlahnya bertambah meski para komika masih harus membagi waktu antara aktivitas komunitas dengan pekerjaan maupun kegiatan lainnya.

Salah satu upaya yang tengah disiapkan Dispar Kukar adalah mempertemukan komika Tenggarong dengan komunitas Stand Up Comedy Samarinda. Kolaborasi itu diharapkan dapat menjadi ruang bertukar pengalaman sekaligus meningkatkan kualitas materi.

Dalam salah satu kegiatan, lebih dari delapan anggota komunitas Stand Up Samarinda turut hadir untuk memberikan dukungan dan berbagi pengalaman kepada komika lokal.

Baca Juga  Kecamatan Kembang Janggut Dorong Pembangunan Rumah Sakit sebagai Prioritas Utama Musrenbang 2026

Zikri menyebut kualitas materi menjadi hal yang sangat menentukan dalam stand up comedy. Terlebih jika komika Tenggarong nantinya tampil di ruang publik dengan karakter penonton yang jauh lebih beragam.

Simpang Odah Etam menjadi salah satu lokasi yang dipertimbangkan sebagai ruang tampil baru bagi komunitas tersebut.

“Materi stand up comedy kan intinya ada di materi, bagaimana penyampaiannya. Jadi, memang kami juga minta bantuan dari teman-teman stand up dari Samarinda untuk datang ke sini,” ujarnya.

Ia mengatakan, panggung publik membutuhkan kemampuan membaca situasi dan karakter audiens. Penonton tidak hanya berasal dari kalangan muda, tetapi juga anak-anak hingga orang tua.

“Di sana penontonnya audiensnya berbeda-beda. Ada anak-anak, ada orang tua, jadi sense of humor-nya berbeda-beda. Karena mereka juga pasti melihat audiens,” jelasnya.

Karena itu, kesempatan tampil di ruang publik akan dibarengi dengan proses penguatan kemampuan komika. Dispar Kukar ingin komunitas lokal tidak hanya mendapatkan panggung, tetapi juga memiliki kesiapan untuk menghadapi penonton dengan latar belakang yang berbeda.

Baca Juga  Pemilihan Duta Wisata Kukar 2025 Segera Dibuka, Generasi Muda Bersiap Unjuk Diri

Dari sisi komunitas, Ketua Stand Up Comedy Tenggarong Muhammad Zakaria Alfarizi mengatakan perkembangan open mic dalam beberapa bulan terakhir mulai menunjukkan tren positif.

Antusiasme penonton mulai meningkat. Bahkan, sejumlah penonton dari luar Tenggarong turut datang menyaksikan pertunjukan.

“Alhamdulillah, saya senang dengan banyaknya penonton yang hadir. Ada juga beberapa orang dari Samarinda. Harapannya ke depan bukan hanya dari Samarinda, tetapi masyarakat Tenggarong sendiri semakin banyak yang ikut menonton,” ujarnya.

Regenerasi komika juga mulai terlihat. Beberapa anggota yang baru bergabung sekitar tiga bulan terakhir sudah mampu mempersiapkan materi komedi berdurasi sekitar lima menit.

Saat ini, komunitas mencatat sekitar 14 anggota yang telah terdaftar. Namun, panggung open mic tetap terbuka bagi masyarakat umum yang ingin mencoba tampil.

Zakaria mengatakan, kegiatan tersebut tidak harus berujung pada keinginan menjadi komika profesional. Open mic juga dapat menjadi sarana melatih keberanian berbicara di hadapan orang banyak.

“Kami terbuka untuk umum. Misalnya ada yang ingin belajar public speaking atau hanya ingin menyampaikan keluh kesah, bisa disampaikan melalui open mic. Untuk usia juga terbuka, mulai SMP, SMA hingga mahasiswa,” katanya.

Baca Juga  Standar Baru RTLH Kutim: Rumah Knockdown Ramah Lingkungan Tanpa Material Kayu

Open mic dijadwalkan berlangsung rutin setiap Rabu malam mulai pukul 20.00 Wita.

Di tengah perkembangan tersebut, komunitas masih menghadapi tantangan dalam menjaga jumlah penampil dan penonton. Dalam satu pertunjukan, komika yang tampil bisa mencapai lima hingga enam orang, sementara jumlah penonton belum selalu ramai.

Namun, bagi komunitas, keberlanjutan panggung tetap menjadi hal utama. Konsistensi tersebut dinilai penting untuk membentuk kebiasaan sekaligus membangun ekosistem stand up comedy di Tenggarong.

Ke depan, Stand Up Comedy Tenggarong berharap dapat dikenal lebih luas dan berkembang ke berbagai wilayah di Kukar.

Dispar Kukar pun menyiapkan strategi yang tidak hanya bertumpu pada komunitas yang sudah ada. Mulai 2027, program Ekraf Goes to School akan diarahkan untuk menjaring talenta baru dari kalangan pelajar.

Program tersebut akan menyasar berbagai subsektor ekonomi kreatif, mulai film, fotografi, tari, musik hingga stand up comedy.

“Jadi, kombinasinya memang dari sektor film, fotografi, tari, musik, nanti akan turun bersama-sama ke sekolah untuk kita mencari bibit-bibit. Karena kalau yang lama-lama ini kan memang ya sampai di situ saja, jadi kita harus mencari bibit-bibit baru,” kata Zikri. (adv)

Bagikan: