KUKAR – Kecamatan Kota Bangun di Kabupaten Kutai Kartanegara dikenal sebagai wilayah yang didominasi perairan, dengan 10 dari 11 desanya berada di sepanjang Sungai Mahakam. Kondisi ini membuat mayoritas warga menggantungkan hidup dari profesi nelayan.
Namun, Desa Loleng menjadi pengecualian. Berbeda dari desa lainnya, wilayah ini tidak langsung berbatasan dengan Sungai Mahakam dan memiliki lahan yang cukup luas untuk aktivitas pertanian dan perkebunan.
Camat Kota Bangun, Abdul Karim, menjelaskan bahwa masyarakat Loleng memanfaatkan lahan tersebut untuk menanam padi, sayuran, serta berbagai tanaman perkebunan. Desa-desa lain di kecamatan ini juga memiliki lahan pertanian, namun sangat bergantung pada kondisi cuaca. Banjir menjadi tantangan utama yang sering mengganggu aktivitas bertani dan akses transportasi.
“Banjir besar biasanya terjadi setiap sepuluh tahun sekali, tetapi banjir kecil hampir datang setiap tahun. Dampaknya bisa membuat tanaman tenggelam dan jalan terendam,” ujar Abdul Karim. Senin (4/8/2025)
Meski menghadapi tantangan alam, ia memastikan kebutuhan pokok warga tetap terjaga. Harga bahan pokok sejauh ini masih stabil, ditopang oleh program pemerintah seperti pasar murah dan distribusi LPG 3 kilogram untuk warga yang berhak.
Dengan kombinasi potensi pertanian di Desa Loleng dan upaya stabilisasi kebutuhan pokok, Kecamatan Kota Bangun membuktikan bahwa ketahanan pangan tetap bisa terjaga meski berada di wilayah perairan yang rawan banjir. (Adv)





