Media Meratus, Kutai Kartanegara – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-244 Kota Tenggarong diisi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dengan ziarah ke makam Sultan Aji Imbut dan para raja Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Senin (28/9/2026).
Ziarah berlangsung di kompleks makam raja-raja Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan hari jadi Kota Tenggarong sekaligus momentum untuk mengenang sejarah berdirinya kota tersebut.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan, perjalanan Tenggarong hingga menjadi pusat pemerintahan saat ini tidak terlepas dari peran Sultan Aji Imbut.
Salah satu peristiwa penting dalam sejarah tersebut adalah pemindahan pusat pemerintahan dari Pemarangan ke Tepian Pandan yang kemudian dikenal sebagai Tangga Arung.
“Kegiatan ziarah ini mengingatkan kita pada beberapa hal. Pertama, bahwa Kota Tenggarong ini tidak serta-merta ada seperti yang kita lihat pada hari ini. Ada perjuangan panjang yang dilakukan oleh seseorang yang kita sebut dengan Aji Imbut, di mana beliau memindahkan pusat pemerintahan dari Pemarangan ke Tepian Pandan, yang selanjutnya disebut dengan Tangga Arung atau rumah raja, dan sekarang kita kenal dengan daerah Tenggarong,” ujarnya.
Menurut Aulia, perjalanan tersebut juga mengandung pelajaran mengenai keberanian mengambil langkah perubahan. Perpindahan pusat pemerintahan, kata dia, menjadi bagian dari upaya menuju kondisi yang lebih baik.
“Kedua, pelajaran yang bisa kita ambil adalah hijrah atau perpindahan itu menjadi suatu keniscayaan untuk sesuatu yang lebih baik,” katanya.
Ia menjelaskan, pemindahan pusat pemerintahan dilakukan dalam situasi Pemarangan yang saat itu dinilai sudah tidak kondusif akibat pemberontakan.
Sultan Aji Imbut yang sebelumnya berada di Wajo kemudian kembali untuk merebut kembali takhta Kesultanan Kutai Kartanegara.
“Pada saat ada pemberontakan dan beliau pulang dari tanah Wajo, karena beliau dibesarkan oleh kakeknya, di daerah Wajo, beliau pulang ke sini untuk mengambil kembali takhta yang diambil alih oleh orang lain,” jelasnya.
Bagi Pemkab Kukar, ziarah ke makam para raja tidak sebatas mengenang perjalanan masa lalu. Kegiatan tersebut juga dijadikan bahan refleksi dalam menjalankan pembangunan daerah saat ini.
“Dan kita sebagai generasi penerus hari ini memandang ziarah ini bukan hanya sebagai sebuah perjalanan sejarah, tetapi juga merupakan suatu refleksi. Ini merupakan suatu bekal bagi kami dalam membangun Kabupaten Kutai Kartanegara,” ungkap Aulia.
Aulia berharap identitas sejarah Tenggarong sebagai kota yang memiliki keterkaitan erat dengan Kesultanan Kutai Kartanegara tetap dipertahankan.
Ia menilai tema Erau Adat Kutai 2026, “Raja Menjamu Rakyatnya”, juga mencerminkan semangat untuk menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam kehidupan daerah.
“Kita berharap Tenggarong ini tetap menjadi kotanya para raja-raja. Kita memperlakukan seluruh warga masyarakat yang ada di Kabupaten Kukar ini layaknya raja. Sangat tepat Erau Adat Kutai 2026 mengusung tema ‘Raja Menjamu Rakyatnya’,” katanya.
Ia berharap pelaksanaan Erau dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya. Peningkatan kemeriahan, menurutnya, tetap harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga nilai sakral tradisi tersebut.
“Mudah-mudahan kegiatan Erau bisa kita jaga konsistensinya. Di tahun 2027, kita bisa melaksanakan lebih semarak, lebih meriah lagi, dan tentunya tanpa meninggalkan nilai sakralitas yang dimiliki oleh Erau itu sendiri,” pungkasnya. (Adv)





