Margahayu Tumbuh Mandiri Berkat Perkebunan Karet dan Sawit

Ilustrasi Kebun Karer. Sumber: mediameratus.com

KUKAR – Desa Margahayu, Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara, menunjukkan perkembangan signifikan sebagai desa mandiri yang bertumpu pada potensi lokal. Perkebunan karet dan sawit kini menjadi penopang utama perekonomian warga.

Sekitar 35 persen dari 1.200 kepala keluarga di Margahayu menggantungkan hidup pada sektor ini, sementara sisanya masih berkegiatan di bidang pertanian, termasuk persawahan.

Kepala Desa Margahayu, Rusdi, menjelaskan bahwa bantuan bibit karet dari pemerintah sekitar sepuluh tahun lalu kini telah memberikan hasil nyata.

Baca Juga  Empat Subsektor Ekraf Diproyeksikan Jadi Sumber Pendapatan Baru Masyarakat Kutai Timur

“Kebun-kebun milik warga mulai produktif dan menjadi sumber penghasilan utama,” pungkasnya Jumat (4/7/2025)

Selain mengandalkan hasil perkebunan, desa juga mengembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mandiri Sejahtera. Lembaga ini berperan sebagai penghubung antara petani dan pabrik pengolahan untuk memperlancar distribusi hasil panen dan menekan biaya.

“Salah satu rencana yang sedang dijalankan adalah menjalin kerja sama langsung dengan pabrik karet di Palaran, agar petani tidak perlu mengirim hasil panen ke Samarinda,” lanjutnya.

Baca Juga  43 Paskibraka Kukar 2025 Dikukuhkan, Bupati Aulia: “Tugas Mulia, Harus Lancar di Hari H”

Potensi sawit di Margahayu juga terus berkembang. Sekitar 10 persen lahan desa telah ditanami sawit, sebagian besar oleh generasi muda yang melihat peluang besar karena pasar jelas dan lokasi pabrik pengolahan dekat.

Saat ini, 20 kelompok tani di Margahayu telah memiliki legalitas resmi. Peralihan lahan dari sawah ke kebun karet atau sawit semakin marak karena kebutuhan pasar yang tinggi dan keterbatasan lahan.

Baca Juga  Pemkab Kukar Tanda Tangani NPHD, Untuk Pembiayaan PSU

Meski demikian, pemasaran karet masih menjadi tantangan karena biaya distribusi yang cukup tinggi. Rusdi berharap BUMDes bisa menjadi solusi agar petani lebih fokus pada produksi, sementara distribusi dikelola secara kolektif.

“Ke depan, pemerintah desa juga berencana mengadakan pelatihan pengolahan hasil perkebunan agar produk karet tidak lagi dijual mentah, sehingga nilai jualnya meningkat dan pendapatan petani bertambah,” tutupnya (Adv)

Bagikan: