KUKAR – Kecamatan Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara, menegaskan diri sebagai salah satu pusat perkebunan kelapa sawit unggulan di Kalimantan Timur. Sekitar 70–80 persen penduduk setempat menggantungkan hidup pada sektor perkebunan, terutama kelapa sawit.
Plt Camat Kembang Janggut, Suhartono, menjelaskan bahwa warga tidak hanya bekerja pada perusahaan besar, tetapi juga mulai mengelola kebun sawit secara mandiri. “Mayoritas masyarakat bergantung pada perkebunan, khususnya kelapa sawit. Mereka bukan sekadar buruh, tetapi juga pemilik kebun dan pelaku usaha langsung,” ungkapnya.
Kepemilikan kebun pribadi oleh warga membuktikan bahwa ekonomi desa tidak sepenuhnya tergantung pada korporasi besar. Para petani mandiri kini dapat menjual hasil panennya melalui koperasi maupun langsung ke perusahaan, sehingga distribusi lebih cepat dan biaya lebih efisien.
“Semakin banyak petani mandiri, semakin meningkat pula potensi pertumbuhan ekonomi desa. Apalagi Pemkab Kukar telah memberikan dukungan melalui pelatihan dan akses pupuk bersubsidi,” tambah Suhartono. Rabu (16/7/2025)
Selain itu, pihak kecamatan tengah menyiapkan pembangunan pabrik pengolahan sawit di tingkat lokal. Proyek ini diharapkan menambah nilai ekonomi produk sawit, sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat desa.
Koperasi desa juga berperan penting dalam mendukung keberhasilan petani. Selain menyediakan pupuk dan alat pertanian, koperasi memberikan pendampingan usaha serta pelatihan teknis. Salah satu koperasi yang aktif adalah Koperasi Merah Putih, yang kini hadir di 11 desa dan terus memperluas layanannya bagi petani sawit.
Pemerintah Kecamatan Kembang Janggut terbuka untuk kolaborasi dengan investor lokal dalam pengembangan sektor pengolahan sawit. Sinergi antara petani, koperasi, dan pemerintah diharapkan menjadi fondasi ekonomi agribisnis yang mandiri dan berkelanjutan.
“Dengan dukungan berbagai pihak, kami yakin Kembang Janggut akan terus berkembang sebagai wilayah agribisnis yang kuat. Model kemandirian petani ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain,” tutup Suhartono. (Adv)





