KUKAR – Sektor perikanan di Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, terus berkembang dan menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat. Potensi perairan yang melimpah dimanfaatkan warga baik melalui penangkapan ikan di alam bebas maupun budidaya.
Plt. Camat Kota Bangun, Abdul Karim, menjelaskan bahwa sebagian besar nelayan di wilayahnya masih mengandalkan hasil tangkapan dari sungai, danau, dan rawa. Namun, sejumlah warga sudah mulai mengembangkan budidaya ikan menggunakan keramba berbahan kayu ulin yang dipasang di sungai.
“Ikan yang dibudidayakan bervariasi, seperti baung, patin, dan emas. Di daerah dataran tinggi, warga juga memanfaatkan kolam air tawar untuk budidaya mandiri,” terangnya, Senin (4/8/2025).
Tak hanya menjual ikan segar, masyarakat Kota Bangun juga menghasilkan beragam olahan bernilai tambah. Produk seperti ikan salai, ikan kering (pija), kerupuk ikan, hingga amplang berbahan ikan lokal telah menjadi ciri khas kuliner daerah ini dan dikenal sebagai oleh-oleh.
Meski perkembangan berjalan positif, Abdul Karim mengakui masih ada tantangan, salah satunya praktik penangkapan ikan ilegal dengan setrum yang merusak ekosistem. Pihak kecamatan bersama aparat dan kelompok pengawas rutin melakukan patroli serta penindakan. Di beberapa desa bahkan telah disepakati bahwa alat setrum yang ditemukan akan disita dan diganti dengan alat tangkap tradisional.
Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah daerah, khususnya Dinas Perikanan Kukar, yang menyalurkan bantuan alat tangkap kepada kelompok nelayan melalui anggaran daerah. “Walaupun saya baru menjabat sekitar enam bulan, saya melihat perhatian pemerintah cukup besar. Bantuan ini sangat membantu meningkatkan hasil tangkapan dan menjaga keberlanjutan usaha perikanan,” ujarnya.
Dengan sinergi masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha, sektor perikanan Kota Bangun diharapkan terus berkembang, baik dari sisi produksi, pengolahan, maupun pemasaran produk agar lebih kreatif dan kompetitif. (Adv)





