Rencana Penangkaran Buaya Disiapkan, Kutim Bidik Konservasi Sekaligus Penggerak Ekonomi

Media Meratus, Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur mulai mengkaji pembangunan penangkaran buaya sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem dan kelestarian satwa liar. Program ini dirancang tidak hanya berorientasi pada konservasi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi jangka panjang.

Rencana penangkaran tersebut diproyeksikan berada di kawasan Muara Bengalon yang dinilai memiliki karakter lingkungan sesuai dengan habitat buaya. Pemerintah menilai lokasi tersebut cukup strategis untuk pengembangan kawasan konservasi terpadu.

Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan Kutai Timur, Noviari Noor, menyampaikan bahwa penangkaran buaya akan dikembangkan dengan konsep yang berkelanjutan.

Baca Juga  Pembebasan Lahan RSUD Muara Bengkal Rampung, Pemkab Kutim Pacu Penguatan Layanan Kesehatan Wilayah Hulu

“Tujuan utamanya adalah menjaga ekosistem dan populasi buaya, namun ke depan penangkaran ini juga diharapkan mampu menjadi motor ekonomi baru bagi daerah,” ujarnya.

Menurut Noviari, pengelolaan penangkaran nantinya akan mempertimbangkan skema kerja sama dengan pihak ketiga. Model ini diharapkan mampu memastikan pengelolaan berjalan profesional dan tidak membebani anggaran daerah.

Ia mencontohkan sistem penangkaran yang telah diterapkan di daerah lain, seperti Balikpapan, yang mampu mengelola satwa secara berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Selain fungsi konservasi, penangkaran buaya juga dirancang sebagai sarana edukasi. Masyarakat, pelajar, dan pengunjung nantinya dapat belajar mengenal satwa reptil, khususnya buaya, dari sisi perilaku hingga peran ekologisnya.

Baca Juga  Dispar Kukar Siapkan Wajah Baru Kawasan Pujasera untuk Dukung Wisata Kuliner di Tenggarong

Keberadaan fasilitas edukatif tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian satwa liar dan habitatnya.

Noviari menilai, pendekatan edukasi menjadi penting untuk mengurangi konflik antara manusia dan buaya, terutama di wilayah yang kerap terjadi interaksi langsung dengan satwa tersebut.

Lebih jauh, pengembangan penangkaran buaya juga berpotensi mendukung sektor pariwisata berbasis alam. Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan ini dapat menjadi destinasi baru yang menarik.

Baca Juga  Samboja Katat Kemajuan Pertanian Lewat Kolaborasi TNI-Polri

“Kami ingin penangkaran ini tidak hanya menjadi tempat konservasi, tetapi juga ruang pembelajaran dan peluang ekonomi yang memberi manfaat bagi masyarakat sekitar,” kata Noviari Noor.

Ia menegaskan bahwa seluruh perencanaan akan dilakukan melalui kajian mendalam, baik dari aspek lingkungan, sosial, maupun ekonomi, agar program berjalan aman dan berkelanjutan.

Dengan konsep konservasi terpadu, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur optimistis rencana penangkaran buaya dapat menjadi contoh pengelolaan satwa yang seimbang antara pelestarian lingkungan dan pengembangan ekonomi daerah.(ADV)

Bagikan: