Ikan Sapu-Sapu Ramai Dibahas, Pemusnahan Massal Picu Pro-Kontra

Media Meratus, Jakarta – Fenomena ikan sapu-sapu kembali menjadi sorotan nasional. Pemerintah di sejumlah daerah, terutama DKI Jakarta, tengah gencar melakukan penangkapan dan pemusnahan massal terhadap spesies ini yang dinilai merusak ekosistem perairan.

Dalam operasi terbaru, pemerintah menargetkan pengangkatan hingga 10 ton ikan sapu-sapu dari sungai dan waduk. Dalam waktu sepekan, lebih dari 7 ton ikan berhasil diangkat dari perairan ibu kota.

Langkah ini dilakukan karena populasi ikan sapu-sapu yang terus meningkat dan mendominasi perairan, khususnya di Sungai Ciliwung.

Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys) merupakan spesies asing yang berasal dari Amerika Selatan dan awalnya masuk ke Indonesia sebagai ikan hias. Namun, kemampuan adaptasinya yang tinggi membuat ikan ini berkembang pesat di perairan umum.

Baca Juga  Musim Keli Tiba, Nelayan Semayang Hadapi Realita: Ikan Tak Lagi Semelimpah Dulu

Di alam liar, ikan ini hampir tidak memiliki predator alami. Selain itu, tingkat reproduksinya sangat tinggi dan mampu bertahan di kondisi air tercemar sekalipun.

Akibatnya, ikan sapu-sapu kini mendominasi sejumlah perairan dan mengancam keberadaan ikan lokal.

Para ahli menyebut kehadiran ikan sapu-sapu membawa dampak serius, antara lain:

Merusak ekosistem dengan memangsa telur ikan lokal

Mengganggu rantai makanan dan menekan populasi ikan asli

Menggali dasar sungai yang memicu erosi dan kekeruhan air

Merusak jaring nelayan hingga menimbulkan kerugian ekonomi

Bahkan, ikan ini dikenal mampu berkembang di perairan yang sangat tercemar, sehingga kerap dianggap sebagai indikator buruknya kualitas lingkungan.

Baca Juga  Buka Puasa HIPMA-KT di Masjid H. Bolly Jadi Ajang Reuni Mahasiswa Kutim, Jimmy Soroti Pentingnya Kebersamaan

Untuk menekan populasi, pemerintah melakukan penangkapan besar-besaran yang melibatkan petugas, relawan, hingga masyarakat. Ikan hasil tangkapan umumnya dimusnahkan dengan cara dikubur.

Namun, metode ini menuai perhatian publik setelah muncul laporan bahwa sebagian ikan dikubur dalam kondisi belum sepenuhnya mati.

Pemerintah daerah pun mengakui perlunya evaluasi metode penanganan agar sesuai dengan prinsip kesejahteraan hewan dan etika.

Di satu sisi, kalangan akademisi dan pemerhati lingkungan mendukung langkah ini karena dinilai penting untuk menyelamatkan ekosistem air tawar dari dominasi spesies invasif.

Namun di sisi lain, kritik muncul terkait metode pemusnahan yang dianggap tidak manusiawi. Sejumlah pihak, termasuk tokoh publik dan lembaga keagamaan, meminta pemerintah memperbaiki prosedur agar lebih etis.

Baca Juga  Buka Puasa HIPMA-KT di Masjid H. Bolly Jadi Ajang Reuni Mahasiswa Kutim, Jimmy Soroti Pentingnya Kebersamaan

Selain itu, muncul pula usulan agar ikan sapu-sapu tidak dimusnahkan begitu saja, melainkan dimanfaatkan. Di antaranya diolah menjadi pakan ternak, pupuk, hingga bahan industri untuk memberikan nilai ekonomi.

Meski pemusnahan terus dilakukan, para ahli menilai langkah tersebut belum cukup jika tidak dibarengi perbaikan kualitas lingkungan.

Ikan sapu-sapu justru berkembang pesat di perairan yang tercemar, sehingga penanganan akar masalah seperti limbah dan pencemaran dinilai menjadi kunci utama.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat agar tidak melepas ikan hias ke alam bebas juga menjadi bagian penting dalam mencegah penyebaran spesies invasif ini.

Bagikan: