KUKAR – Musim ikan keli kembali datang di Desa Semayang, Kecamatan Kenohan, Kutai Kartanegara. Namun alih-alih membawa kegembiraan, musim yang biasanya dinanti-nanti ini justru meninggalkan rasa waswas bagi para nelayan.
Di tepian Danau Semayang, Imran nelayan yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari danau itu mengaku hasil tangkapannya kini tak lagi seperti dulu.
Musim keli, atau lele air tawar, umumnya berlangsung ketika air danau naik dan membasahi lahan gambut. Pada saat itulah para nelayan memasang perangkap tradisional dari kawat berbentuk jebakan, yang mereka sebut pengilar.
“Dulu pasang di belakang rumah saja sudah dapat. Sekarang sudah tidak bisa,” kata Imran, Jumat (2/1/2026).
Ia masih mengingat masa beberapa tahun lalu, ketika sekali melaut bisa membawa pulang puluhan kilogram ikan. Satu jebakan bahkan bisa berisi hingga satu hingga tiga kilogram.
“Saya pernah dapat sampai 50 kilo. Satu pengilar isinya bisa satu kilo lebih,” kenangnya.
Kini, situasinya jauh berbeda. Dalam sehari, Imran kadang hanya memperoleh kurang dari lima kilogram. Sesekali lebih, tetapi tidak lagi rutin.
Di sisi harga, nelayan juga tak dihadapkan pada pilihan yang menyenangkan. Keli biasanya dibeli pengepul Rp25–30 ribu per kilogram. Namun saat panen ramai, harga bisa jeblok: ikan besar hanya dihargai sekitar Rp8 ribu, sementara ikan kecil Rp3–5 ribu bahkan ada yang tak terserap pasar.
Musimnya pun semakin pendek. Jika dulu bisa berlangsung sebulan, kini tak sampai sepekan.
Kondisi serupa dirasakan Murjani, nelayan lainnya. Dalam beberapa hari terakhir, total tangkapannya sekitar 18 kilogram angka yang jauh lebih kecil dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Sekarang paling 5 sampai 8 kilo per hari. Dulu waktu musim bagus, sehari bisa 20 sampai hampir 30 kilo,” tuturnya.
Menurut Murjani, tekanan ekonomi semakin terasa.“Bahan bakar naik, kebutuhan rumah tangga naik. Tapi hasil makin sedikit. Berat sekali,” tambahnya.
Imran menduga berbagai perubahan cara menangkap ikan turut memberi dampak. Ia menyoroti penggunaan jaring berlubang kecil, alat tangkap yang makin panjang, hingga praktik penyetruman yang merusak populasi ikan.
“Kalau dibiarkan, ikan bisa makin sedikit,” ujarnya.
Dengan penghasilan yang tak menentu, para nelayan mengaku semakin sulit menutup biaya operasional, sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari sementara harapan agar musim keli kembali seperti dulu kian menipis.





