KUKAR – Setiap pagi, jalan tanah yang menghubungkan Desa Bloro dan Desa Sebulu Moderen menjadi ujian tersendiri bagi warga Kecamatan Sebulu. Di jalur inilah para pelajar SMA, pedagang kecil, hingga warga yang membutuhkan layanan kesehatan mempertaruhkan keselamatan mereka.
Bentangan jalan sepanjang lebih dari satu kilometer itu sejatinya adalah urat nadi pergerakan masyarakat. Namun kenyataan di lapangan jauh dari harapan. Saat hujan turun, jalan berubah menjadi lintasan licin berlumpur. Sebaliknya, ketika kemarau tiba, debu tebal beterbangan dan mengganggu jarak pandang pengendara.
Para pelajar menjadi kelompok yang paling rentan. Setiap pagi mereka harus melintasi jalan tersebut demi sampai ke sekolah. Tak jarang sepeda motor tergelincir, tubuh terjatuh, dan pakaian sekolah penuh lumpur.
“Kalau hujan, banyak anak-anak jatuh. Ada yang akhirnya pulang karena bajunya sudah kotor dan tidak jadi sekolah,” ujar Midi, pemilik warung di Desa Bloro.
Camat Sebulu, Fahruddin, menjelaskan bahwa panjang ruas jalan penghubung Bloro-Sebulu Moderen mencapai sekitar 1,6 kilometer. Dari total itu, kerusakan terparah berada di sepanjang 600 hingga 700 meter.
“Kalau yang betul-betul rusak parah itu sekitar 700 meteran,” kata Fahruddin, Sabtu (10/1/2026).
Kerusakan tersebut berdampak langsung pada waktu tempuh warga. Perjalanan yang normalnya hanya sekitar 10 menit, kerap memakan waktu lebih lama. Kendaraan bisa terjebak lumpur, sementara pengendara harus ekstra hati-hati untuk menghindari kecelakaan.
Persoalan ini menjadi semakin krusial karena keterbatasan fasilitas kesehatan di Kecamatan Sebulu. Fahruddin menyebutkan, saat ini hanya terdapat dua puskesmas, masing-masing berada di Sebulu Ilir dan Desa Sumber Sari.
“Memang setiap desa ada Pustu, tapi untuk pelayanan tertentu tetap harus ke puskesmas induk. Mau tidak mau warga harus melewati jalan ini,” jelasnya.
Di sektor pendidikan, keterbatasan sarana sekolah di Desa Bloro juga memaksa para pelajar menempuh perjalanan ke desa lain, bahkan ke kecamatan berbeda. Di Bloro hanya tersedia sekolah hingga jenjang SD dan SMP, yakni SD Negeri 04, SD Negeri 015, SD Negeri 016, serta SMP Negeri 4 Sebulu.
“Untuk SMA, anak-anak harus ke Desa Sebulu karena di sana ada SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 2. Ada juga yang sampai sekolah ke kecamatan lain,” ungkap Fahruddin.
Kondisi jalan yang buruk turut memengaruhi aktivitas ekonomi warga. Midi mengaku lebih sering berbelanja kebutuhan warungnya ke Kota Tenggarong atau Pasar Mangkurawang. Untuk menuju ke sana, ia menyeberangi sungai menggunakan kapal feri, lalu melanjutkan perjalanan melalui Kelurahan Rapak Lambur.
“Saya lebih sering belanja ke Tenggarong. Kadang juga ke Sebulu, tapi jarang, karena jalannya lebih susah,” tuturnya.
Menurut Midi, kerusakan jalan tersebut sudah berlangsung sekitar tiga tahun terakhir. Meski sempat dilakukan perbaikan, penanganannya hanya berupa penimbunan tanah yang tidak bertahan lama.
“Pernah diperbaiki, tapi cuma ditimbun tanah. Kena hujan dan dilewati mobil, rusak lagi,” katanya.
Dampak terburuk dari kondisi jalan itu pernah dirasakan langsung oleh keluarganya. Anak perempuannya sempat melahirkan di tengah perjalanan menuju Puskesmas Sebulu karena sulitnya akses jalan.
“Anak saya lahiran di jalan. Untung ibu dan bayinya selamat. Sekarang anaknya sudah sekitar tiga tahun,” kenang Midi.
Warga menduga, kerusakan jalan tak lepas dari aktivitas hauling batu bara yang dulu kerap melintas di jalur tersebut.
“Dulu sering dilewati truk batu bara. Tambangnya sekarang sudah tidak ada, tapi jalannya belum diperbaiki. Yang tersisa cuma rusaknya,” ujar Midi.
Fahruddin menegaskan, ruas jalan tersebut bukan hanya menghubungkan Desa Bloro dan Sebulu Moderen, tetapi juga menjadi akses penting bagi desa-desa lain seperti Tanjung Harapan, Selerong, Sanggulan, Senoni, Lekaq Kidau, hingga ke Kecamatan Muara Kaman.
Harapan mulai muncul setelah Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, meninjau langsung kondisi jalan tersebut. Dari hasil peninjauan itu, disepakati langkah penanganan sementara sambil menunggu perbaikan permanen.
“Yang penting sekarang jalan ini bisa dilalui dulu. PU akan menurunkan pengerasan sementara, dan insyaallah pada perubahan anggaran nanti kita alokasikan untuk pemantapan dalam bentuk pengecoran,” ujar Aulia Rahman Basri.
Ia menegaskan, sebelumnya jalan ini dipelihara oleh perusahaan batu bara. Namun setelah aktivitas tambang berhenti, tanggung jawab perawatan sepenuhnya kembali ke pemerintah daerah.
“Statusnya ini jalan kabupaten,” tegasnya.
Sementara itu, Camat Sebulu menyebut anggaran sementara untuk pengerasan jalan diperkirakan mencapai sekitar Rp400 juta.
“Kami sudah rapat dengan kepala desa, RT, BPD, dan warga. Sekarang tinggal menunggu keputusan pimpinan,” jelas Fahruddin.
Bagi warga Bloro dan Sebulu, khususnya para pelajar, rencana perbaikan tersebut menjadi secercah harapan setelah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan lumpur.
“Kemarin bupati datang, katanya mau diperbaiki. Alhamdulillah, semoga cepat direalisasikan,” ucap Midi penuh harap.





